Tema : Peran Industri Berbasis Tebu
Dalam Perekonomian Nasional dan Percepatan
Pertumbuhan
Ekonomi.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Melalui Pembangunan Industri Tebu
Perekonomian
adalah kehidupan dalam suatu negara, hidup atau tidaknya negara tersebut, maju
atau berkembang suatu negara seringkali diukur dari tingkat perekonomian
nasional, dan erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, dimana perekonomian
nasional menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat saat ini, sedangkan
pertumbuhan ekonomi menggambarkan peningkatan output produksi yang dihasilkan
dan adanya kenaikan standar pendapatan dan mempengaruhi kondisi perekonomian
nasional. Sehingga apabila suatu negara mengalami pertumbuhan ekonomi maka
keadaan perekonomian negera tersebut ikut berubah, maka faktor Sumber Daya
Manusia (SDM), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), Sumber Daya Alam (SDM),
Budaya, dan Sumber Modal setiap tahunnya harus mengalami peningkatan.
Pertumbuhan ekonomi merupakan tanggung jawab pemerintah dengan dukungan rakyat
karena muara dari pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan pendapatan per kapita,
dan kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu, pemerintah sebagai pelaku ekonomi
berperan sangat penting bagi berjalannya perekonomian nasional, karena sebagian
besar pangsa pasar dikuasai pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
memiliki beberapa jenis usaha dari sektor yang strategis seperti pertanian,
perkebunan, keuangan, manufaktur, transportasi, telekomunikasi, hingga listrik.
Dari beberapa sektor yang ada, perkebunan merupakan fokus tersendiri bagi
pemerintah, karena sektor ini sangat berhubungan dengan kebutuhan pokok
masyarakat, yangmana ketersedian dan keterjangkaun harganya merupakan hidup
mati suatu bangsa. Bidang perkebunan berbeda dengan pertanian, jika hasil pertanian
tidak memerlukan pengolahan lebih lanjut dengan skala pabrik, maka berbeda
dengan perkebunan, hasil dari usaha ini sering kali harus diolah terlebih
dahulu dalam skala pabrik agar dapat dijual, sehingga banyak faktor pendukung
tingkat produktivitas sektor perkebunan. Seperti sawit yang harus diolah
terlebih dahulu menjadi minyak mentah agar memiliki nilai jual yang tinggi
daripada hanya dijual dalam bentuk CPO (Coconut
Palm Oil). Kopi, teh, dan tembakau harus diolah terlebih dahulu kebentuk
yang diterima pasar, tidak bisa kopi dijual dalam kondisi bijian, ataupun teh
dan tembakau tidak bisa dijual dalam bentuk daun, dan juga tebu tidak mungkin
dijual dalam bentuk batang tebu jika ingin memiliki nilai ekonomis yang tinggi
dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat, maka diperlukan adanya proses lebih
lanjut yang melibatkan teknologi pengolahan, dan sumber daya manusia yang ahli
dibidangnya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa hasil dari sektor perkebunan merupakan
kebutuhan pokok yang dominan selain beras dalam kehidupan sehari-hari. Untuk
itu pemerintah diwakili oleh PT Perkebunan Nusantara I-XIV dan swasta memandang
perlu adanya pengembangan sektor perkebunan karena merupakan salah satu
pendorong perekonomian nasional dan juga percepatan pertumbuhan ekonomi.
Masalah
dari sektor perkebunan yang menjadi fokus oleh pemerintah dan swasta saat ini
adalah industri berbasis tebu, dengan program pemerintah swasembada gula di
tahun 2019 memaksa seluruh komponen bekerja keras menemukan langkah kongkret
untuk mensukseskan swasembada gula 2019, langkah ini dirasa perlu karena
kondisi gula nasional yang cukup memprihatinkan, selain tidak mampu mencukupi
kebutuhan gula dalam negeri, Indonesia juga sudah dikenal sebagai negara
pengimpor gula dengan jumlah impor Gula Kristal Putih (GKP) setiap tahunnya
meningkat dan diperkirakaan tahun 2017 akan naik 100% dari pada akhir 2015 yang
hanya 200.000 ton menjadi 400.000 ton GKP. Hal tersebut sangat berdampak pada
tatanan sosial ekonomi masyarakat, ketika pasokan gula berkurang maka akan
terjadi kenaikan harga yang dampaknya selain bagi masyarakat juga bagi pabrik
dan petani tebu sendiri, belum lagi raw
sugar yang diimpor ke Indonesia, awalnya memang diproyeksikan untuk diolah
di pabrik gula rafinasi yang hasilnya untuk industri makanan, minuman, dan
obat-obatan. Tetapi, pasar tidak mudah dikendalikan, akhirnya gula rafinasi “merembes”
menjadi gula konsumsi karena harga yang lebih murah, masyarakat cenderung
membeli gula rafinasi daripada Gula Kristal Putih (GKP) untuk kebutuhan sehari-hari.
Dampak yang lebih jauh lagi pada enggannya petani untuk menanam tebu karena
keuntungan yang diperoleh minim, hal tersebut akhirnya akan mempengaruhi
keberlanjutan pabrik gula dimana sumber bahan bakunya berkurang, produksi
gulanya menurun, sedangkan biaya operasional tetap, sehingga pabrik gula sering
kali mengalami kerugian. Sebenarnya masih sangat potensial sekali industri gula
berkembang berkaca pada kebutuhan gula nasional setiap tahunnya meningkat, di
tahun 2015 kebutuhan gula nasional sebesar 5,77 juta ton, tahun 2016 sebesar
5,97 juta ton naik ditahun 2017 sebesar 6,17 juta ton, dan pada tahun 2018
sebesar 6,39 juta ton, hingga tahun 2019 diperkirakan akan mencapai 6,61 juta
ton untuk konsumsi Gula Kristal Putih (GKP). Sedangkan Gula Kristal Putih (GKP)
dalam negeri hanya mampu mencukupi setengah dari permintaan pasar. Dari data
tersebut jelas menunjukan bahwa pangsa pasar Indonesia masih sangat besar, dan
sangat mempengaruhi kondisi perekonomian nasional, maka dari itu untuk
tercukupinya kebutuhan gula nasional, pemerintah khususnya telah menyiapkan
program untuk mencapai swasembada gula 2019, seperti pembangunan pabrik baru
dengan kapasitas dan teknologi terbaru, revitalisasi pabrik, penggabungan
pabrik, serta penyertaan modal sebagai bentuk keseriusan pemerintah mengatasi
krisis gula nasional. Namun tidak akan mudah menjalankan program tersebut
karena pabrik gula merupakan salah satu industri yang sangat kompleks, banyak
faktor pendukung keberhasilan yang harus dicapai agar keuntungan yang diperoleh
maksimal. Pada dasarnya pabrik gula tergantung dua hal yaitu bahan baku, dan
pabrik. Polemik bahan baku yang paling mendasar adalah kurangnya lahan tebu
untuk penanaman, hal tersebut dipicu karena menurunnya minat petani menanam
tebu dan juga alih fungsi lahan untuk infrastruktur, sehingga berdampak pada
menurunnya jumlah bahan baku serta bahan baku harus diperoleh hingga keluar
dari wilayah kerja suatu pabrik tersebut, menimbulkan masalah tersendiri lagi
karena biaya transportasi meningkat, dan kesegaran tebu menurun apalagi jika
ada kerusakan sukrosa akibat paparan sinar matahari selama diperjalanan menuju
pabrik. Selain itu varietas atau bibit yang digunakan oleh petani berpengaruh
pada kualitas tebu dinilai dari rendemen dan kemasakan, padahal rendemen
merupakan tolak ukur gula yang dapat diperoleh dari tanaman tebu tersebut, jadi
apabila sekarang ini rendemen terus turun maka tidak banyak hasil gula yang
dapat diperoleh. Sedangkan faktor penting lainnya mengenai teknologi budidaya,
bagaimana cara pemupukan, cara penanaman, hingga cara memperoleh bibit yang
unggul. Semua faktor tersebut harus diusahakan mengalami peningkatan diiringi
perbaikan dalam pabrik. Sedangkan polemik dalam pabrik yang menjadi masalah
adalah proses, alat, dan teknologi pengolahannya. Maklumlah sebagian besar
pabrik gula khususnya dibawah naungan PT Perkebunan Nusantara IX, X, maupun XI merupakan
peninggalan masa penjajahan Belanda, sehingga ada beberapa pabrik gula yang
alat dan teknologinya belum mengalami pembaharuan secara menyeluruh, dengan
program revitalisasi dari pemerintah memberikan angin segar bagi pabrik gula
yang ada untuk pembaharuan teknologi, namun hal tersebut juga mengalami dilema
karena dana yang dibutuhkan untuk revitalisasi pabrik hampir setara dengan
pendirian pabrik baru, dalam kasus ini pemerintah harus pandai melihat potensi
pabrik gula yang masih mampu berkembang dan dinilai dari ketersediaan bahan
baku yang mencukupi jika dilakukan revitalisasi, karena revitalisasi dibutuhkan
guna otomatisasi seluruh peralatan sehingga biaya tetap seperti gaji karyawan
dapat dikurangi. Cara lain yaitu pendirian pabrik baru juga tidak mudah untuk
dilakukan selain harus dibangun pabrik dengan kapasitas yang besar dan lahan
bahan baku yang cukup luas, pembebasan lahan dan perizinan juga menjadi
persoalan tersendiri. Kebanyakan perwujudan program pembangunan pabrik baru
yang paling memungkinkan dilakukan di luar pulau Jawa, namun kondisi lahan yang
ada di luar Jawa juga tidak selamanya cocok untuk penanaman tebu sehingga
banyak faktor yang menjadi pertimbangan namun dampak positifnya jika diwujudkan
dengan baik, mampu menambah hasil produksi gula nasional dan menumbuhkan gairah
pergulaan karena mampu menjadi cerminan bagi pabrik gula lain untuk termotivasi
menjadi pabrik gula yang efektif dan efisien. Alternatif usaha lainnya yaitu
dengan penggabungan pabrik, namun upaya ini akan berdampak pada kesejahteraan
masyarakat yang sebelumnya bekerja di pabrik, tetapi dapat mengurangi pabrik
gula yang sudah tidak mampu beroperasi dengan baik, sehingga bahan baku dapat
dialihkan ke pabrik dengan proses pengolahan yang lebih baik, dan diharapkan
mampu memberi keuntungan. Untuk teknologi pengolahan sejauh ini sudah ada
beberapa pabrik yang beralih dari karbonatasi menjadi sulfitasi, kemudian
sulfitasi menjadi defekasi remelt karbonatasi, atau defekasi remelt phospatasi sehingga
kualitas gula yang dihasilkan mulai mengalami peningkatan, tinggal bagaimana
Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada disetiap pabrik mampu mengusahakan
operasional proses sesuai standar dan kehilangan gula diproses sekecil mungkin.
Faktor terpenting lainnya adalah modal karena tidak bisa dipungkiri karena
jarak pabrik yang saling berdekatan mendorong pabrik satu dengan yang lain
mengalami “rebutan” tebu untuk memenuhi kapasitas, sehingga bagi petani akan
cenderung memilih pabrik yang memberikan keuntungan, maka dari itu modal awal
pabrik sangat dibutuhkan selain untuk menarik petani juga untuk kebutuhan
selama proses giling berlangsung. Sektor industri tebu membutuhkan kerjasama
yang baik, ada 2 kerjasama yang harusnya terjalin dengan baik agar kedepannya
industri tebu dapat maju bersama-sama, yaitu kerjasama antara pabrik gula,
dimana harus ada kerjasama pembagian wilayah bahan baku dan bahan bakar,
semisal ampas ataupun teknologi hasil samping yang ingin dikembangkan dapat
diupayakan dengan modal bersama. Yang kedua kerjasama anatar direksi PT
Perkebunan Nusantara, dapat saling bekerjasama mengenai Sumber Daya Manusia
(SDM), program strategis meningkatkan hasil produksi, hingga teknologi
pengolahan yang memberikan keefektifan bagi pabrik gula ataupun peminjaman
modal.
Segala
bentuk upaya pemerintah mengembalikan kejayaaan pergulaan nasional sudah
dicanangkan dan diwujudkan seiring berjalannya waktu, tetapi kedepannya akan banyak sekali kondisi
yang mengharuskan adanya penyesuaian rencana dengan kondisi riil negara ini,
seperti anggaran program pembangunan 10 pabrik baru yang dipangkas, menimbulkan
masalah lain tetapi pemerintah harus tetap berupaya mencari alternatif
kebijakan seperti mencari investor yang bersedia menamamkan modalnya untuk
pembangunan pabrik gula baru tersebut baik kepada pihak asing ataupun swasta.
Karena industri gula saat ini masih sangat menjanjikan bagi siapa saja,
sehingga masih menjadi daya tarik investor. Perekonomian nasional di sektor
industri tebu memang masih lesu karena kebutuhan gula nasional masih belum
terpenuhi dengan produk dalam negeri, apabila seluruh komponen di industri
berbasis tebu ini berkomitmen, bekerja keras, dan mau bekerjasama, baik
pemerintah maupun pihak swasta untuk meningkatkan produksi gula maka dampak
bagi perekonomian dan percepatan pertumbuhan ekonomi sangat signifikan, karena
harga pokok gula dapat dikendalikan sehingga mampu bersaing dengan gula impor,
ketahanan pangan disektor gula bagi
masyarakat terjamin, dan kedepannya diharapkan Indonesia terbebas dari impor
gula sehingga alokasi dana impor dapat dialihkan ke sektor lainnya guna
pembangunan dan program pemerintah
lainnya, atau boleh jadi mampu bersiang dengan Thailand ataupun India sebagai
negara pengekpor gula, sehingga mampu memberikan devisa bagi negara. Walaupun
kondisi gula saat ini masih krisis namun optimisme untuk berkembang dan maju
harus terus dijaga, karena tidak ada perubahan yang membutuhkan waktu sebentar,
semua adalah proses sehingga yang terpenting usaha dan upaya terus dilakukan.
Selamat Membangun Kembali Perkebunan Nusantara Berjaya.
*) Data diperoleh dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar